[ DEBAT CAWAPRES vs NETIZEN ]

[ DEBAT CAWAPRES vs NETIZEN ]
oleh: @si.blih
Hasil debat kemarin:
Kyai tetapalah Kyai. Ulama tetaplah ulama. Guru tetapah guru. Wajib dihormati. Menghinanya, adalah racun bagi kita.
Pengusaha hebat tetaplah pengusaha hebat, mau apapun yang dia jabat, sejak dulu sampai sekarang memang sudah jadi idola dan jadi panutan bisnis terbaik yang sejarah harus ikut mencatat.
Hebatnya Kyai Ma'ruf yang merupakan Komisaris Bank Nusumma, dan sering ikut rapat kabinet zamannya Pak SBY ini adalah selalu menjadi ulama kharismatik, berilmu tinggi, dan berwawasan luas yang patut kita contoh setiap baiknya.
Hebatnya Bang Sandi, pengusaha yang rajin berolahraga yang pernah menjadi Wakil ketua Umum Kadin pada masanya untuk memajukan Ekonomi bangsa adalah selalu tampil menawan dengan kecerdasan dan kesantunan ahlaknya, yang wajib kita contoh sebagai penerus bangsa.
Jika menilai debat Kyai Ma'ruf dan Bang Sandi sebagai debat "beda kelas" tentu tidaklah benar.
Mereka punya keistimewaaan masing-masing yang patut kita banggakan, karena Indonesia memiliki 2 anak bangsa yang luar biasa seperti mereka.
Sosok Kyai Ma'ruf yang sangat hebat dalam Ilmu Mantiq, jelas terlihat dari setiap ucap yang matang yang lahir karena kehati-hatian dalam berpikir, serta kepeduliannya terhadap bangsa yang masih selalu tumbuh meskipun telah renta.
Saya jadi teringat akan sosok Abu Ayyub Al-Anshari, sahabat Nabi Saw. yang meskipun telah renta tapi tetap tidak pernah Absen dalam satu peperangan pun.
Karena memegang teguh firman Allah SWT, “Berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun berat ...” (QS at-Taubah [9]
Sosok Bang Sandi yang hebat dalam Bisnisnya, terbukti ia tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia versi Majalah Forbes pada tahun 2009, serta kecerdasannya yang terbukti ketika masa mudanya mendapatkan kuliah beasiswa di Amerika dan mendapatkan IPK sempurna (4.00).
Saya jadi teringat akan sosok Abdurrahman bin Auf, sahabat Nabi Saw. yang pandai berbisnis, tapi menggunakan bisnisnya sebagai penopang kemajuan bangsa dan negara demi meraih ridho Allah Azza wa Jalla. Sungguh mengesankan dan istimewa.
Inti dari tulisan ini adalah, menghina mereka berdua ataupun salah satunya bukanlah pemikiran yang bijak. Mereka luar biasa!
Memilih dan jangan golput memang harus, tapi memilih tanpa menghina sepertinya lebih keren kan ya?
Ketika kita menghina satu dan yang lainnya, apakah diri kita sudah sadar bahwa diri kita ternyata lebih sampah daripada yang dihina?
Saya pribadi, untuk pemilihan nanti, kemungkinan akan memilih Bang Sandi. Bukan karena saya membenci Jokowi atau Ulama yang ada disisinya nanti?
Karena saya tidak mau membenci apalagi merendahkan sosok yang harusnya bisa dijadikan inspirasi.
Karena saya percaya, manusia pasti ada baik dan buruknya. Termasuk kita!
Dan inti dari debat calon wakil presiden yang kita tonton dengan cangkir penuh air tersebut adalah sebetulnya, bukan mereka akan terpilih atau tidak?
Tapi, mereka akan benar-benar "dipakai" atau tidak jika dipilih nanti?
Seperti yang ada pada tulisan Abah Dahlan Iskan di blog pribadinya (disway):
"Kita semua tahu bagaimana Wapres Jusuf Kalla kecewa saat berpasangan dengan pak SBY. Merasa kurang dipakai.
Publik juga tahu bagaimana Pak JK bahkan sudah kecewa sejak di minggu pertamanya dengan pak Jokowi. Juga karena tidak dipakai.
Kita tentu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Itu bagian dari rahasia mereka berdua. Mungkin saja pak SBY yang duluan kecewa dengan pasangannya itu. Mungkin juga pak Jokowi yang justru kecewa sejak minggu pertamanya.
Kelak mereka pasti akan menulis memoar. Sesuai dengan masing-masing versinya."
Pada Bang Sandi, saya melihat kemungkinan kecil untuk tidak "dipakai".
Melihat semangatnya, visinya, dan programnya yang menurut saya sangat cocok atau relevan untuk negara ini, yang buahnya bisa kita petik suatu saat nanti.
Ini hanya tulisan opini, bahwa memilih tidak harus turut menghina. Dan pilih sesuai hati nurani dan pola pikir yang baik saja. Tak perlu dengan nafsu semata.

0 komentar