#DiaryPedagang - Merubah Introvert Menjadi Ekstrovert

*MERUBAH INTROVERT MENJADI EXTROVERT*

Hai, ini kisahku. Seorang bocah yang tak pernah keluar rumah, dan selalu menyerah karena takdir Tuhan yang selalu membuatku patah.

Aku akan sedikit bercerita tentang kisahku, sedari kecil aku memang tak pernah keluar rumah. Karena aku sadar diri, aku 10 bersaudra, orang tuaku selalu repot mengurusi anak-anaknya. Dan aku tak pernah keluar rumah karena ingin mengurangi beban orang tuaku saja.

Saking sangat pendiam dan jarang bergaul, hampir di kampungku saja tak mengenalku. Banyak yang menilai aku ini ansos, introvert, ataupun apatis. Tapi tak apa, memang inilah diriku.

Meskipun seperti itu, aku hanya ingin mengurangi beban orang tuaku saja.

Selang masuk SMP, aku rajin keluar rumah. Bukan untuk bermain atau nongkrong-nongkrong seperti anak lainnya. Melainkan keluar rumah untuk berjualan asongan, lagi-lagi untuk bantu meringankan beban orang tua.

Setahun sudah aku berjualan asongan, ketika kelas 2 SMP. Akhirnya akupun harus menyudahinya, karena orang tuaku bilang aku harus fokus dengan pendidikan apalagi sudah kelas Tiga sebentar lagi ujian.

Bagaimana tidak disuruh fokus? Catatan merahku disekolah sudah terlalu fenomenal. Waktu sekolah SMP kelas 2 aku selalu masuk siang, tapi aku itu anak paling rajin kesiangan, masuk jam stengah 1 siang datang setengah 2 siang.

Karena mau bagaimana lagi? Malam dan pagi buta aku harus berkeliling mencari lembaran rupiah dijalanan dengan berjualan asongan, yang selalu kujadikan patokan bahwa ini adalah solusi hidup agar bahagia dan tak merepotkan.

Setelah berhenti berdagang dan fokus ujian pun akhirnya aku lulus, dan masuk sekolah SMK Pemasaran. Kata orang tuaku sih, aku bakat di dunia dagang, jadi mereka ingin aku mendalami dunia pemasaran.

Ah sialnya, aku setengah hati masuk SMK Pemasaran. Karena aku ingin masuk STM. Bukan karena aku bandel. Karena menurutku di STM itu pergaulannya lebih menyenangkan, tidak ada batasan, dan apa adanya tanpa embel-embel kekayaan. Berbeda dengan sekolah pemasaran, yang dimana pasti ada bocah-bocah tengik yang sering pamer kekayaan orang tua agar dapat simpati para perempuan di sekolahnya. Dan, betul saja. Hal itu benar terjadi, sungguh menjijikan.

Ketika kelas 1 dan 2 SMK, aku kembali menjadi pribadi yang pendiam. Bagiku ini pergaulan yang bukan kuinginkan.
Aku yang bocah miskin, dan datang kesekolah dengan ongkos pas-pasan harus bersaing dengan mereka yang punya orang tua kaya yang kayanya kelewatan.

Bahkan, untuk biaya sekolah saja aku selalu menunggak dan akhirnya jarang sekali ikut ujian ataupun ulangan. Selalu ikut dibagian ulangan susulan, sembari dinyinyiri kepala sekolah yang katanya aku ini pembawa sial. Bayar biaya sekolah kok ditunggak-tunggak. Bukan murid teladan.

Ah sialan memang, aku semakin merasa diri ini seperti pecundang. Datang ke sekolah cuma datang tanpa sedikitpun ilmu yang masuk ke otak-ku karena dalam pikiranku yang terpikir hanya tunggakan dan tunggakan.

Ditambah, ketika tak lama jadi anak SMK. Ayahku meninggal. Ah sial, orang tua itu malah pergi duluan. Padahal dia yang selalu menyemangati aku kala aku ditimpa kesedihan.

Semakin aku tenggelam dalam kesendirian. Menikmati masa-masa dimana aku tak suka bergaul, membenci hidup, dan menjadi introvert yang ansosnya sungguh seperti tak punya semangat hidup.

Lagi-lagi tak mau membebani Ibu, aku pun menjadi sampingan. Menjadi OB dan Customer Service di sebuah kantor untuk dapat uang jajan. Ya lumayan, walau sehari cuma dapat 15 ribuan, tapi itu cukup untuk ongkos pergi ke sekolahan.

Dan ketika detik-detik ujian akan tiba, aku sudah menyerah memikirkan tunggakan, karena pasalnya di Ujian ini butuh biaya yang sangat banyak. Dan inilah yang membuatku benci sistem pendidikan di Indonesia. Tak membuat kita menjadi pintar, tapi hanya membuat kita memiliki banyak dendam. Entah pada hidup, ataupun pada Takdir Tuhan yang selalu tidak meng-enakan.

Kantor tempatku bekerja pun tutup, dan aku tak punya sama sekali pemasukan. Ah sial, derita hidupku sudah lengkap. Ayah sudah tak ada, bayaran sekolah hutangnya banyak gila, ditambah pergaulan yang sungguh membuatku kecewa.

Untungnya, aku punya beberapa sahabat dekat yang senasib. Ya begitulah sistem pendidikan zaman sekarang, yang kaya gaul dengan yang kaya, yang miskin gaul dengan yang miskin. Sungguh hidup yang penuh dengan kesialan!

Kepada temanku yang senasib, akupun belajar dan mengajak mereka menerima keadaan dan belajar untuk mencoba merubah keadaan.
Meskipun aku tak terlalu beriman pada kala itu, karena menurutku takdir Tuhan itu sungguh sialan, tapi aku akan mencoba kembali menempuh jalan iman.

Mengajak aku pada sahabatku, "Bro, bentar lagi kita sekolah mau udahan. Gimana kalo mulai dari sekarang, mumpung baru masuk kelas Tiga, kita coba rajinin untuk solat Dluha, biar nanti pas lulus sekolah kita dimudahkan dalam mencari kerja. Soalnya kata Ustadz Yusuf Mansyur katanya kalo mau sukses di dunia kita harus solat Dluha."

Temanku pun mengikuti ajakanku.
Dan disitulah aku menemukan hidayah, tiba-tiba aku malah diajak untuk jadi remaja mesjid yang ternyata sungguh indah.

Di remaja mesjid tersebut, aku diajari bagaimana caranya menyikapi hidup, bagaimana caranya berpasrah pada takdir Tuhan, dan selalu semangat dalam melawan cobaan.

Aku selalu ingat pesan Pak Komar salah seorang guru agamaku, pernah berkata "bergabung dengan organisasi, adalah salah satu jalan untuk kita merubah hidup. Dengan organisasi kita akan belajar bagaimana caranya menemukan diri kita."

Aku sangat semangat sekali di Remaja Mesjid ini. Bahkan, aku sampai terpilih menjadi ketua remaja mesjid mewakili sekolahku. Aku yang tadinya selalu benci keadaan sekolahku, sekarang mulai menyenanginya dan bahkan sering menginap di mesjid sekolahan sehingga jarang pulang ke rumah.

Aku yang tadinya di sekolah tidak dikenal siapa-siapa, tiba-tiba mulai dikenal banyak orang. Termasuk oleh guru-guruku. Dan orang tuaku pun bangga, karena setiap ditagih tunggakan untuk ke sekolah, semua guruku memuji-muji aku.

"Ooh ini orang tuanya Adi? Waah adi mah anaknya baik bu, rajin, soleh juga."

Ibuku juga mulai terkenal di sekolahku, dikenal oleh guru-guru dan juga admin sekolahku. Setiap Ibuku ke sekolah, ibuku selalu disambut, "ooh ini orang tuanya Adi ya?"  Alhamdulillah, semua jadi serba perhatian dan pengertian.

Dan benar saja kata Ustad Yusuf Mansyur, jika kita ingin sukses di dunia kita harus rajin solat Dluha. Ketika sekolah, sampai aku tidak pernah lepas solat Dluha.

Ketika ujian beberapa bulan akan dimulai, tiba-tiba guruku atau bisa dibilang wakil kepala sekolahku menyapaku di dalam mesjid selepas solat bersama.

"Di, nanti setelah ujian dan lulus sekolah mau kerja dimana?"
Aku pun mulai menceritakan padanya langkah hidup yang akan aku ambil ketika lulus sekolah nanti, aku berkata padanya, "Insyaallah mau kerja di Loket kereta api pak. Soalnya Ibu katanya ada temen yang bisa masukin kesana. Dan insyaallah mau sambil pesantren juga dekat rumah. Soalnya katanya kalo kerja di Loket, sorenya udah bisa pulang."

Dengan tatapannya yang Kharismatik, bagaimana tidak guruku yang satu ini terkenal Killer, dan tak banyak anak yang berani dekat dengannya. Aku malah ngobrol panjang dengannya.

"Waah kalo mau kerja sambil mesantren jangan kerja di Loket Di, soalnya bapak juga dulu pernah kerja disitu dan kerjanya di sift bahkan bisa pulang malam. Kalo Adi mau, adi kerja aja sama bapak bantuin bapak di Sekolah ini untuk jadi Admin."

Aku sempat terharu, bagaimana tidak? Aku tahu posisiku yang sering menunggak biaya sekolah disini, tapi guruku atau wakil kepala sekolahku ini malah mengajakku untuk bekerja dengannya.

Diantara ratusan muridnya, hanya aku yang dipilihnya. Diantara semua murid yang belum menemukan jalan karirnya, hanya aku yang sudah pasti dapat pekerjaan dengan cepat.

Ternyata benar kata Ustadz Yusuf Mansyur, solat Dluha bisa membuat semua jalan terbuka.

"Waah beneran pak? Boleh pak. Tapi nanti adi tanya ke Ibu dulu ya."

"Iya Di, nanti kalo Adi mau masuk sini, bapak yang akan bantu ngomong ke Yayasannya."

Aku tak tahu harus berkata apa, ternyata takdir Tuhan yang sering kuanggap sialan, ternyata membuatku terkaget dan terheran-heran.

Setelah lulus sekolah, dengan tunggakan yang belum terbayar, dan ijazahku pun masih tertahan. Aku dihubungi berkali-kali oleh guruku yang menawariku pada tempo hari.

Katanya, "Di, ayo datang ke sekolah."

Tentu saja, setelah aku bercerita pada Ibu. Dan Ibu mengijinkan, pasti aku akan segera mengambil langkah untuk bekerja di sekolahan. Lagipula, mau ngelamar kerja dimana lagi diriku ini? Ijazah saja tidak punya.

Ketika aku datang ke sekolah, aku pun ditemui olehnya dengan kepala Yayasan.

Guruku begitu antusias menceritakan tentang diriku, "Ini Bu Yayasan, namanya Adi. Dia ini murid saya yang paling rajin, baik, gak neko-neko, dan juga soleh. Dia juga remaja mesjid sini bu."

Aah sialan, ternyata aku yang membenci keadaan sekolah ini, tapi ternyata malah dipuji dan diagung-agungkan. Betapa berdosanya aku menilai mereka hanya dari luka yang membuatku kecewa. Aku sungguh terpesona melihat sikap guruku tersebut.

Dan tentu saja, kepala Yayasan langsung menerimaku. Bahkan, aku juga diajak untuk mencari salah seorang kawan untuk bekerja di sekolah yang lainnya. Karena menurut dia, rekomendasi dariku pasti juga anak biak-baik yang tidak jauh berbeda karakternya denganku.

Aku bahagia sekali Tuhan. Aku akan merubah hidupku di sekolah ini.

Aku pun diteirma menjadi Admin disekolah ini. Pertama masuk kerja, aku langsung dapat petuah-petuah dari guru-guruku, bahwa bekerja di sekolah itu yang penting bukan gajinya. Tapi ilmu dan keberkahannya.

Aku manut, aku menurut. Lagipula tidak tahu diuntung apalagi diriku yang punya banyak tunggakan di sekolah ternyata masih diterima bekerja disekolah ini dengan istimewa?

Betul saja, gajiku pertama di sekolah sangat kecil sekali. Hanya 350ribu per bulan. Tapi aku tidak mempermasalahkan, karena bagiku aku harus bersyukur karena ditempat lain belum tentu aku juga bisa diterima bekerja tanpa ijazah yang sama sekali belum kupunya.

Bekerja di sekolah itu, bagiku anugerah.
Aku yang tadinya membenci kehidupan di sekolah, kini sangat mencintainya. Aku yang sedari dulu selalu berprasangka guru-guru itu pemilih dalam memilih murid kesayangannya, hanya yang kaya saja yang akan dapat perhatian mereka. Ternyata tidak sama sekali.

Aku telah berburuk sangka pada mereka. Karena setelah kusadar, dalam kaidah belajar itu guru hanya membimbing, dan murid lah yang belajar.

Jika saja dulu aku fokus dalam belajar dan tak memikirkan tunggakan, mungkin aku akan selalu menjadi murid kesayangan. Tapi ah sialnya diriku, terlalu mudah dalam menilai. Bodoh sekali.

Ketika bekerja di sekolah, aku seperti mendapat kembali sosok ayah dan ibu yang baru. Setiap hari aku selalu mendapat ilmu. Entah dinasihati, diceramahi, diajari ilmu-ilmu yang belum kudapat ketika aku belajar di sekolah kala dulu, ataupun diberi kasih sayang yang sangat membuatku terharu.

Aku terharu, aku terlalu mudah menilai mereka guru-guruku. Ternyata setelah kulihat kehidupan asli mereka, mereka tidak sesuai dengan prasangka burukku.

Inilah yang kubenci dari hidupku, memandang sebuah pendidikan sebagai jalan membenci hidup, bukan merubah hidup.

Terutama Pak Mulyadi, guru atau kepala sekolah yang dulu mengajakku bekerja bersamanya. Dia seperti sosok ayah bagiku. Aku sadar, betapa dia sangat menyayangiku. Aku tak pernah seperti ada batasan dengannya antara bawahan dan atasan, yang aku rasakan hanyalah bahwa dia adalah ayah baruku.

Dia selalu mendidikku, mengajariku banyak hal, dan juga selalu membuatku tertawa. Aku sangat menyayanginya.

Hampir dengan semua guru aku dekat, sering curhat, dan juga disitulah aku mulai menjadi kuat.

Mereka tak pernah lelah menasihatiku, sampai pada satu titik mereka menyuruhku kembali untuk berkuliah agar aku semakin berkembang mulai dari segi ilmu pendidikan maupun pengetahuan.

Tapi aku gundah, kuliah biaya darimana? Gaji saja pas-pasan.
Sampai salah seorang guruku berkata, "Di, kuliah itu seperti nikah. Awalnya kita bilang, nanti gimana biayanya? tapi tahu-tahu kalo udah masuk kuliah mah ada aja rezekinya."

Disitulah aku langsung semangat mencari kuliahan termurah di kota ini. Ah sialnya, semurah-murahnya biaya kuliah di kota ini tetap saja gajiku tidak cukup.

Sampai suatu waktu, sekolahku mengadakan acara Reuni Akbar. Dan disitu aku terpilih menjadi sekertaris alumni. Ah sialan, siapa aku? Diantara semua alumni yang hebat-hebat, kenapa harus aku yang tak punya bakat?

Tapi salah seorang guruku meyakinkan aku, bahwa aku pasti bisa. Meskipun pada kenyataannya, ketika semua berjalan aku tidak terlalu banyak kerjanya.

Disitulah pula aku menemukan jalanku untuk kuliah beasiswa. Aku dikenalkan oleh alumni lain dengan salah seorang wanita bernama Fatim. Dia adalah salah seorang mahasiswa kampus beasiswa penuh di Kota Bogor.

Aku sangat penasaran sekali padanya, "ah masa iya ada kuliah beasiswa penuh apalagi katanya sampai wisuda?"
Saking penasarannya aku padanya, aku sampai dekat sekali dengannya, dan hampir saja aku memacarinya. hehehe

Meskipun Fatim lebih tua 1 tahun dibanding aku, tapi aku senang sekali mengobrol dengannya. Ilmu dan pengetahuannya sangat banyak. Membuat semangatku semakin bergejolak.

Akhirnya Reuni Akbar berakhir, dan kedekatan kita pun berakhir. Aku pun mencari tahu tentang kampusnya Fatim. Dan ternyata, betul sekali. Aku temukan kampus beasiswa penuh ini yang terletak di kota Bogor. Aku mencarinya di Internet.

Namun sayang, ternyata kuliah di kampus tersebut tidak bisa sambil bekerja. Karena kampusnya punya sistem belajarnya sendiri, pelajaran setara D3 dibuat menjadi 1 tahun. Jadi 1 tahun materi, kuliahnya full dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore.

Aku mulai bingung, jika aku tidak bekerja. Aku dapat pemasukan darimana? Tapi aku ingat kembali perkataan guruku, bahwa kuliah itu seperti menikah. Pasti ada rezekinya.

Aku pun pulang, dan bercerita tentang tujuanku pada Ibuku. Dan lagi-lagi, Ibuku tak pernah lelah mendukungku. Dia bilang, "jika memang gratis, kuliah aja nanti Ibu bantu."

"Ah tapi kan bu, ibu juga punya banyak tanggungan adek-adekku masih sangat kecil dan harus sekolah juga."

"Insyaallah Di, pasti dikasih jalannya. Tenang aja."

Karena perkataan Ibu tersebut, akhirnya aku pun harus memutuskan. Dan aku putuskan untuk ambil kuliah beasiwa ini.

Kata Fatim, di kampus ini tidak penting kita pintar atau tidak. Yang penting kitanya niat pasti keterima.

Aku download semua formulirnya, dan lengkapi semua persyaratannya. Namun ada satu persyaratan yang tidak aku punya, yaitu Ijazah.

Aku hanya punya surat kelulusan saja yang umurnya sudah satu tahun berlalu. Apakah surat ini bisa membantuku masuk ke kampus beasiswa?

Aku tak perduli, aku ingat perkataan Fatim. Aku sudah bulat dengan tekad dan niat.

Sesampai aku ke kampus tersebut, ternyata kampusnya lumayan besar dan bagus sekali. Semua fasilitas lengkap. Aku tidak terlalu yakin, apa benar kampus seperti ini beasiswa full sampai wisuda? Ah, sudah jauh-jauh datang kesini aku harus mencobanya.

Aku pun bertemu dengan salah seorang admin di kampus tersebut, namanya Bang Chandra. Dia keren sekali, sangat nampak pada gaya berpakaiannya yang sungguh anak gaul kota.

Aku mulai minder, apa jangan-jangan disini akan ada pergaulan yang dikotak-kotakkan lagi? Yang kaya dengan yang kaya, yang miskin dengan yang miskin?

Tapi setelah kubaca secara teliti, syarat dari masuk kampus tersebut adalah "anak yang kurang mampu tapi niat belajar."

Ah sudahlah, aku tak mau berprasangka buruk untuk kedua kali. Aku mengatakan maksud tujuanku pada Bang Chandra.

"Bang saya pengen kuliah disini, ini saya udah bawa formulir dan persyaratannya. Tapi saya gak punya ijazah, cuma bawa surat kelulusan sekolah dan itupun yang tahun lalu. Ijazah saya masih tertunggak di sekolah."

"Bang Chandra pun menerimanya, dan mengatakan padaku bahwa kuliah ditempat ini yang penting niat. Soalnya jika menyerah ditengah jalan bisa ke Drop Out."

"Iya bang saya sudah siap, dan saya sudah niat sekali."

Bang Chandra pun menerima semua persyaratanku, dan disitu dia menanyakan aktivitasku sekarang apa? Aku mencoba menjawab sejujur-jujurnya dan seada-adanya. Bahwa aku saat ini bekerja di sekolah, tapi karena gajiku tidak terlalu besar jadi aku juga belum bisa melunasi ijazahku yang tunggakannya sangat besar sekali.

Ia pun memberikanku kartu test untuk mengikuti test pertama masuk kampus tersebut.

Setelah menunggu beberapa bulan untuk ikut test, aku pun datang lagi dan mengikuti semua testnya.

Sebelum berangkat test kuliah, aku bilang pada guru-guruku aku ingin menempuh jalur beasiswa. Termasuk Pak Mulyadi yang sudah kuanggap bapakku sendiri.

Namun aku tidak bilang pada mereka, bahwa di kampus ini aku tidak bisa kuliah sambil bekerja. Dan otomatis jika aku diterima aku tidak bisa lanjut bekerja lagi disekolahku.

Dan sebelum berangkat test, Aku bilang pada Pak Mulyadi bahwa testnya berbentuk test psikologi, dan Ia pun menasihatiku. Dia berkata bahwa test psikologi itu yang penting di isi semua.

Alasanku tidak bilang pada mereka pun adalah, karena aku juga tidak tahu aku akan diterima atau tidak di kampus tersebut.
Dan ternyata, betul saja testnya sangat susah sekali. Entah testnya yang susah, atau akunya yang bodoh?

Ah tapi aku sudah yakin, dengan nasehat Pak Mulyadi aku isi semua testku. Entah benar atau tidak, yang penting aku juga sudah mengikuti nasihat bang Chandra dan Fatim, bahwa yang penting kuliah disini itu niat yang sungguh-sungguh. Dan aku janji akan bersungguh-sungguh.

Dari 400 orang pendaftar ternyata yang diterima hanya 180 orang. Aku gundah, karena teman baruku yang kuajak kenalan pun ada yang tidak diterima.

Aku sudah pasrah, mungkin aku akan gagagal disini. Tapi ternyata, Allah menunjukan kembali jalannya. AKU LOLOS DAN DITERIMA KULIAH BEASISWA.

Yeay, aku sangat senang sekali. Aku tinggal mengikuti 2 test selanjutnya yang tidak terlalu susah, yaitu test survei rumah dan juga interview bersama orang tua.

Aku pun lolos semua testnya dan diterima.
Mungkin ini sudah saatnya aku bercerita pada Pak Mulyadi tentang kabar bahagia.

Pasa suatu sore, ketika semua guru sudah pulang tinggal beberapa saja yang masih ada. Aku menemui Pak Mulyadi yang sudah memakai jaket, menggendong tas, dan menenteng helm untuk pulang.

Sambil berjalan keluar kantornya, aku bercerita sedikit.  "Pak Alhamdulillah Adi keterima kuliah beasiswa."

Jawab santai sambil jalan, "Waah alhamdulilah dong Di kalo gitu. Inget harus sungguh-sungguh belajarnya ya."

"Iya pak, itu mah pasti. Tapi pak, adi kayaknya harus berhenti kerja disini, soalnya nanti kuliah gak bisa sambil kerja full kuliahnya dari pagi sampai sore."

Pak Mulyadi pun menghentikan langkahnya, menurunkan tas yang digendong, helm yang ditenteng, dan membuka kembali jaketnya. Lalu ia duduk dikursi yang sempat kita lewati.

Disini aku merasakan sekali, betapa Pak Mulyadi menyayangiku. Aku sungguh takkan melupakannya.
Entah perasaanku saja, atau memang benar adanya. Tapi yang kurasa, sepertinya aku adalah anak emasnya.

Dia mengajakku duduk di sebelahnya lalu berkata, "Kamu yakin Di?" dengan nada sedikit kecewa ataupun takut kehilangan, aku tak bisa menjelaskannya.

"Iya pak, maaf banget Adi baru bilang. Soalnya waktu itu adi gak tahu akan keterima atau enggak. Makasih banyak ya Pak selama ini udah baik banget sama Adi."

Dia sepertinya tak ingin kehilangan aku, tapi bagaimanapun dia yang membimbingku selama ini agar aku menjadi sosok yang luar biasa suatu saat nanti.

Dan dia pun akhirnya mengikhlaskan aku, disitu adalah momen terharu bagiku karena harus meninggalkan sekolah yang bagiku sudah rumah kedua dan juga tempat keluarga dan orang tua baru yang sangat mencinta.

Semua guruku pun kaget aku akan berhenti, tapi itu sudah keputusanku. Dan mereka tetap akan mendukungku, semuanya sangat mensuport diriku yang pecundang dan senang berburuk sangka ini.

Dalam hatiku berkata, aku tak akan mengecewakan mereka. Aku pasti bisa lulus sampai wisuda tanpa terkena Drop Out.

Kehidupan di sekolah pun, berlalu. Dan aku menuju kisah baru ...


0 komentar